Résultats Google Recherche d’images correspondant à http://3.bp.blogspot.com/_YlV_QVNusWk/R9ZqBINOcLI/AAAAAAAAAFo/uWvTjHqVj8k/s320/GetAttachment.jpg on We Heart It. http://weheartit.com/entry/27159986
Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Qubrusi al-Haqqani by alikarim on Flickr.
Syauq (rindu) adalah ketertarikan hati untuk melihat yang dicintai. Ada pendapat lain yang mendefinisikan syauq sebagai api dari Allah yang dinyalakan di hati para kekasih-Nya hingga api itu mampu membakar apa yang ada di dalam hati mereka, mulai dari kekhawatiran, keinginan, sesuatu yang mendadak muncul, dan beraneka macam kebutuhan. Rindu itu timbul dari cinta. Bila seorang hamba sampai pada tingkat kerinduan ini, maka ia ingin sekali segera bertemu kematian, sebab ia sudah rindu ingin bertemu Tuhannya. Ia juga mulai merasakan telah bertemu dan terbang menemui ke hadirat Tuhannya.
Sebagian ahli hikmah bercerita, “Andaikan Allah berkehendak memberikan kekekalan bagi para kekasihnya di dunia, maka ia akan berkata, ‘Allah enggan untuk menjadikan kekekalan hidup para kekasih-Nya di dunia ini, namun Dia telah memilihkan untuk para kekasih-Nya itu kemuliaan yang besar di sisi-Nya. Tidakkah kalian tahu bahwa seorang kekasih itu selalu merindukan orang yang dikasihinya? Karenanya, beruntunglah bagi siapa saja yang rahmat dan ketenangannya ada pada pertemuan dengan Allah.”
Ketika Siti Nafîsah sedang mendekati ajalnya, ia ketika sedang dalam keadaan berpuasa. Orang-orang yang ada di sekelilingnya ketika itu memintanya untuk berbuka (membatalkan puasanya). Menanggapi permintaan itu, dia pun menjawab, “Mengherankan sekali! Sudah 30 tahun lamanya aku berpuasa dan memohon kepada Allah agar bisa cepat bertemu dengan-Nya dalam keadaan berpuasa. Mengapa sekarang kalian menyuruhku untuk berbuka? Ini tidak boleh terjadi!” Kemudian ia pun melantunkan syair berikut:
Jauhkan dokterku ini dariku
Tinggalkan aku bersama Kekasihku
Bertambahlah rinduku pada-Nya
Dia adalah cintaku dan ratapanku selalu
Setelah itu, ia pun membaca Surah Al-An‘âm. Ketika sampai pada ayat, Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya (QS Al-An‘âm [6]: 127). Tak lama berselang, melesatlah ruhnya menghadap pada Yang Maha Kuasa.
Al-Junaid bercerita, “Suatu hari aku menjenguk Al-Sarrî Al-Saqathî yang sedang sakit. Di sela-sela waktu tersebut, aku bertanya padanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Ia pun menjawab dengan bersyair:
“Bagaimana aku mengadukan sakit yang aku rasa kepada dokter
Sebab penyakit yang menimpaku ini justru berasal dari Dokterku sendiri
Kesembuhan tidak akan menyalamiku dan tidak ada lagi obat bagiku dari penyakitku ini
Kecuali satu, yaitu bertemu dengan Kekasihku (Allah)”
Ada seorang laki-laki dari Bashrah yang terus menerus menangis lantaran rasa rindunya pada Allah hingga membuat kedua matanya menjadi buta. Suatu waktu ia berkata, “Tuhanku, sampai kapan aku tidak bisa menemui-Mu. Demi keagungan-Mu. seandainya saja ada api yang menyala yang memisahkan antara aku dan Engkau, maka itu tidak akan menyurutkankuuntuk bertemu dengan-Mu. Sehingga dengan pertolongan dan taufiq-Mu, aku bisa sampai kepada-Mu. Aku tidak mengharap ridha dari-Mu tanpa diri-Mu selalu menyertaiku.”
Ibrâhîm bin Adham berkata, “Suatu saat aku memasuki Gunung Lebanon. Tak lama berselang, tiba-tiba ada seorang pemuda yang sedang berdiri dan berkata, ‘Hai Dzat yang hatiku terpaut akan cinta-Nya, jiwaku juga telah menjadi pembantu-Nya, dan kerinduanku yang begitu hebat tertambat pada-Nya. Kapankah aku bisa menemui-Mu?’ Mendengar itu, aku pun berkata sekaligus bertanya padanya, ‘Semoga Allah merahmatimu! Apa yang menjadi ciri-ciri orang yang cinta kepada Allah?’ Pemuda itu menjawab, ‘Sering mengingat-Nya.’ Aku bertanya kembali, ‘Apa tanda-tanda orang yang merindukan-Nya?’ Pemuda itu menjawab, ‘Ia tidak pernah melupakan-Nya dalam kondisi apa pun’.”
Suatu saat Ahmad bin Hâmid Al-Aswad datang mengunjungi ‘Abdullâh bin Al-Mubârak. Ahmad berkata pada Ibn Al-Mubârak, “Aku bermimpi bahwa Anda akan meninggal tahun depan. Sebaiknya Anda mempersiapkan amal kebajikan yang cukup!” Ibn Al-Mubârak berkata, “Demi Allah, terlalu lama Anda memberikan kabar waktu kematianku. Apakah aku masih hidup setahun ke depan? Sungguh saya senang dengan bait syair berikut yang saya terima dari Al-Tsaqafî, yaitu Abû ‘Alî Al-Tsaqafî:
Hei orang yang mengadukan kerinduannya lantaran telah lama berperpisah
Bersabarlah, siapa tahu kamu akan menemui Dzat yang kamu cintai besok
Fâris berkata, “Hati orang-orang yang merindu sungguh telah diterangi oleh cahaya Allah. Ketika kerinduan mereka menjelma dahsyat sekali, maka cahaya itu pun akan menerangi seisi cakrawala antara langit dan bumi. Mereka ini akan dipamerkan oleh Allah pada malaikat-malaikat-Nya. Dia berkata, “Mereka itu adalah orang-orang yang rindu pada-Ku. Aku bersaksi di hadapan kalian, wahai malikat-malaikat-Ku, bahwa Aku pun sama merindukan mereka.” Dalam tema yang sama, ada penjelasan sebagaimana berikut: “Siapa saja yang merindukan Allah, maka segala sesuatu (di antara makhluk-Nya) akan merindukannya pula.”
Kata Arab kbusyu’ berasal dan kata khasya’a yang artinya takut’. Misalnya, disebutkan dalam Alquran, “Wa-jah-wajah pada hari itu ketakutan (khasyi’ah)” (Q.S. al-Ghasyiyah (88: 2). Kata khasyi’ah berarti hati yang di-penuhi rasa takut; takut kepada Allah Swt. dan takut bila masa hidupnya tak kan sempat untuk mengumpulkan bekal buat hari akhir nanti.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Dua Jenis Hati: ‘Isyqi dan Khawfi
Khusyuk berkaitan erat dengan hati. Menurut para sufi, untuk meraih hati yang khusyuk, pertama-tama harus melewati ilmu. Dalam konteks ini, kita harus benar-benar memahami fiingsi hati ketika akan menghadap Allah. Kaitannya dengan khusyuk, ada dua jenis kualitas hati: qalb ‘isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi(hati yang takut kepada Allah). Sebagian orang memperoleh kualitas kedua-duanya, sebagian lagi hanya isyqi atau khawft saja, dan sebagian besar tidak memiliki kedua-duanya. Hati yang rindu kepada Allah {isyqi) dan hati yang takut kepada-Nya (khawft) ini sebenarnya mengejar salah satu sifat jamaliah dan jalaliah Allah Swt. Kalau jamaliah itu sisi keindahan dan kasih sayang Allah, maka jalaliah adalah keperkasaan dan keagungan Allah.
Hati yang penuh kerinduan (qalb ‘isyqi) mengejar keindahan Allah (Jamaliah). la merindukan untuk melakukan kebaikan, karena Allah Mahabaik. Rindu tidak akan diperoleh tanpa ada cinta. Maka dalam tasawuf ada yang dikenal dengan mazhab cinta. Mereka beribadah dengan cinta, menghampiri Allah melalaui pintu kasih-Nya. Bagaimana mengembangkan rasa rindu kepada Allah? Belajar mencintai Allah dan mencintai segala sesuatu yang ber-hubungan dengan-Nya!
Cinta kepada Allah memiliki beberapa tingkatan. Menurut Ibn ‘Arabi, cinta ada tiga macam: cinta natural, cinta supranatural, dan cinta ilahi. Cinta natural tidak hanya dimiliki manusia. Hewan pun memilikinya. Cinta ini seperti cinta kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Cirinya bersifat sangat subjektif, karena kita mementing diri kita sendiri. Kita pun mencintai Allah karena Dia limpahkan rezekinya kepada kita. Bukankah seekor anjing mencintai tuannya lantaran setiap hari si tuan memberi makan dan merawatnya?
Cinta spiritual tidak dimiliki hewan tapi hanya oleh manusia. Orang yang mencintai dengan cinta ini tidak memikirkan kepentingan dirinya, tetapi kepentingan yang dicintainya. Ini seprti seorang ibu terhadap anaknya yang tanpa pamrih ia tidak pernah mengharap balasan, bahkan rela menderita asal anaknya bahagia. Kita harus mengembangkan cinta seperti ini kepada Allah, harus lebih dari hanya cinta natural. Misalnya Allah menyuruh kita untuk menginfakkan harta kita maka kita melakukannya, bukan untuk mengharap pahala melainkan mendambakan ridha-Nya. Cinta ini tumbuh bersamaan dengan kesadaran betapa banyaknya anugerah Allah yang telah kita terima. Apa pun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kita peroleh.
Cinta ilahi lebih dalam lagi. Dengan cinta ini, orang bukan hanya mendahulukan kepentingan objek yang dicintai, tapi tidak lagi melihat dirinya sebagai sesuatu yang ia miliki. Semua dilihat sebagai milik Allah. Karenanya, tidak ada suatu aktivitas pun kecuali yang diinginkan Allah. Menurut Ibn ‘Arabi, jenis cinta ketiga ini tidak bisa dibayangkan. Itulah cinta Nabi Muhammad saw. kepada Allah Swt. dan para kekasih-Nya.
Untuk memperoleh kekhusyukan, kita mesti mengembangkan kualitas hati yang penuh kerinduan kepada Allah. Sholat tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban, melainkan sarana penjumpaan dengan Allah. Sehingga, waktu shalat adalah saat-saat yang kita rindukan. Rasulullah bahkan menyebut sholat sebagai lahan nyawanya. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Cahaya mataku adalah sholat (Qurratu ‘aini al sholah)
Diantara ciri-ciri rindu adalah suka “menyendiri” dengan kekasih. Sekali-kali menyediakan waktu untuk berkhalwat-menjaga jarak dari anak dan istri, duduk bertafakur dan berdzikir kepada Allah. Waktu yang paling pas adalah di sepertiga malam terakhir. Maka itu sholat tahajud dianggap sebagai salah satu media yang paling efektif mengangkat manusia menuju Allah. Sebab saat itu dia sendirian (khalwat), hanya berduaan bersama Allah. Imam ‘Ali k.w. bermunajat, “Ya Allah, di tengah malam ini, ketika semua orang mencari kekasihnya, ketika istri mencari suaminya, anak-anak bersama ibunya, aku bangun mencari kekasihku yang paling kasih, Engkau Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.”
Kalau seseorang dapat mengembangkan kualitas hati demikian, ia akan meraih kedamaian. Dalam tasawuf di-kenal dengan uns, intimasi (keakraban). Dia akan merasa akrab dengan Allah. Dia akan merasa bahagia yang tak terkira ketika bersama Allah. Tidak hanya itu. Orang yang mencapai maqam ini, doanya dikabulkan oleh Allah. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah menyatakan, “… bila ia melihat, Aku menjadi penglihatannya; bila ia mendengar, Aku menjadi pendengarannya; bila ia melangkah, Aku menjadi kakinya. Bila dia menghampiri-Ku sejengkal, Aku me-dekatinya sehasta; bila ia menuju Aku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
Intinya, kualitas hati yang ‘isyqi tidak hanya meng-antarkan kepada salat yang khusyuk, tetapi juga pada kehidupan yang damai dan merindukan perjumpaan dengan Allah Swt. Allah berfirman, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh salat itu berat sekali kecuali bagi mereka yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka dan kepada-Nya mereka kembali (Q.S. al-Baqarah [2]: 45).
Hati yang takut kepada Allah (qalb khawfi) mengejar keperkasaan dan keagungan Allah (Jalaliah). Sebagaimana cinta, takut juga ada tingkatannya. Pertama, takut yang paling rendah adalah takut kepada ancaman Allah, seperti pembantu takut pada ancaman tuannya. Dalam tingkat ini, salat dilakukan karena takut diazab Allah di alam kubur atau takut tidak memperoleh rezeki di dunia. Kalau kita beribadah karena takut akan ancaman siksa Allah, itu termasuk khauf yang positif. Mesinya kita mempunyai takut seperti itu, tetapi itu tingkatan takwa terendah.
Kedua, takut dalam pengertian hormat dan takzim terhadap orang yang kita agungkan. Misalnya takut kepada kedua orang tua. Kita takut bukan karena ancaman melainkan kita menghormati dan mentakzimkan mereka. Demikian juga takut kepada kepada Allah, setidaknya takut karena memang Allah Maha adil, Maha agung, dan sungguh jasanya tak terkira-kira. Itulah takutnya orang-orang saleh. Dalam sejarah diceritakan bahwa ketika Nabi mau salat, kadang-kadang tubuhnya bergetar, mukanya pucat pasi dan sebagainya. Bukan karena beliau takut diazab oleh Allah, tapi beliau memang melihat bahwa yang layak disembah demikian hanyalah Allah Swt.
Ketiga, takut dalam arti kesadaran penuh bahwa Allah adalah segala-galanya dalam dirinya. Oleh karena itu, ada sebuah doa yang sering dibaca oleh Nabi: Ya Allah perlakukanlah kami dengan rahmat-Mu, jangan perlakukan kami dengan keadilan-Mu. Makna doa ini sangat dalam. Kita memohon kepada Allah agar memperlakukan kita dengan rahmatNya, dengan anugerah-Nya, bukan keadilan Nya, sebab kalau Allah memperlakukan kita dengan adil , kita tidak akan bisa masuk surga. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menghitung secara adil limpahan rezeki dari Allah, sedangkan yang kita berikan sangatlah sedikit. Sejauh mana kita mensyukurinya? Apa yang kita berikan di jalan Allah sangat kecil dibandingkan dengan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, yang ditakuti oleh Nabi bukanlah ancaman Allah, melainkan keadilan-Nya.
Jadi, untuk memperoleh khusyuk, kembangkan kualitas hati yang khawfi, dengan menyadari sifat-sifat jalaliah Allah: Yang Maha Perkasa, Mahaadil, Mahabesar, Maha-agung, dan sebagainya.
Dalam tasawuf disebutkan: Sesungguhnya di dalam jamaliah Allah ada jalaliah’-Nya, dan di dalam jalaliah Allah ada jamaliah-Nya (inna ft kulli jalalin jamalun wa fi kulli jamalin jalalun). Artinya, di dalam sifat Mahaindah-Nya ada keperkasaan-Nya, dan di dalam sifat Mahaperkasa-Nya ada keindahan-Nya. Keduanya bukanlah sifat yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi. Mana yang lebih dominan, tergantung kualitas hati. Rasulullah saw. memiliki qalb ‘isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi (hati yang takut kepada Allah) sekaligus. Kita juga mesti menyeimbangkan antara keduanya. Dengan demikian, kekhusyukan akan menjadi kenyataan.
Sufi Road
baiat ulang di masjid BI by agung17 on Flickr.